PEDULI LINGKUNGAN DIMULAI DARI SAMPAH KITA SENDIRI

Seberapa pedulinya kita?

Kita sering mengatakan bahwa kita mencintai alam. Kita ingin udara yang bersih, sungai yang jernih, lingkungan yang indah, dan bumi yang tetap nyaman untuk anak cucu kita. Tetapi pernahkah kita bertanya pada diri sendiri: seberapa pedulinya kita sebenarnya?

Peduli bukan hanya ketika melihat tumpukan sampah lalu mengeluh. Bukan hanya ketika mencium bau tidak sedap, melihat sungai dipenuhi plastik, atau ketika lingkungan kita terlihat kotor lalu bertanya, “Mengapa tidak dibersihkan?” Peduli seharusnya dimulai jauh sebelum sampah itu berada di jalan, di sungai, di selokan, atau menumpuk di tempat pembuangan.

Peduli dimulai ketika sampah itu masih berada di tangan kita sendiri.

Setiap hari kita menghasilkan sampah. Dari dapur kita, meja makan kita, tempat kerja kita, kegiatan kita, hingga barang-barang yang kita beli. Tetapi setelah sampah itu masuk ke dalam kantong dan keluar dari rumah, sering kali kita merasa persoalan telah selesai.

Padahal sesungguhnya, sampah tidak pernah benar-benar pergi.

Ia hanya berpindah tempat.

Plastik yang kita buang hari ini mungkin akan berada di bumi jauh lebih lama daripada usia kita. Sampah yang kita lempar ke selokan mungkin suatu hari menyumbat aliran air dan kembali kepada kita dalam bentuk banjir. Sampah yang dibuang ke sungai akan terbawa ke hilir, mencemari air, mengganggu kehidupan di dalamnya, dan pada akhirnya dampaknya kembali kepada manusia.

Bumi saat ini sedang memberi banyak tanda.

Cuaca semakin sulit diprediksi. Suhu semakin panas. Banjir, kekeringan, pencemaran air, kerusakan hutan dan berbagai persoalan lingkungan semakin sering kita saksikan. Memang tidak semuanya disebabkan oleh sampah. Tetapi cara kita memperlakukan sampah adalah salah satu gambaran paling sederhana tentang bagaimana hubungan kita dengan bumi tempat kita hidup.

Yang membuat saya sering berpikir adalah, kita begitu mudah menuntut lingkungan yang bersih, tetapi belum tentu bersedia melakukan bagian terkecil untuk mewujudkannya.

Kita ingin petugas datang setiap hari. Kita ingin jalan bersih. Kita ingin sungai bebas sampah. Kita ingin tempat wisata indah. Kita ingin pemerintah bekerja lebih baik.

Semua itu wajar.

Tetapi ada satu pertanyaan yang juga harus berani kita tujukan kepada diri sendiri:

Apa yang sudah saya lakukan terhadap sampah saya sendiri?

Sudahkah kita memilah sampah dari rumah?

Sudahkah sisa makanan dan sampah organik kita kelola sehingga tidak semuanya berakhir di tempat pembuangan?

Sudahkah botol, kardus, plastik dan barang yang masih bernilai kita pisahkan untuk digunakan kembali atau didaur ulang?

Ataukah semuanya masih kita campur dalam satu kantong, kemudian kita serahkan kepada orang lain dan berharap persoalannya selesai?

Kita sering berpikir bahwa satu bungkus plastik yang kita buang sembarangan tidak akan mengubah apa-apa. Tetapi bayangkan jika ribuan orang berpikir dengan cara yang sama.

Sebaliknya, satu rumah yang mulai memilah sampah mungkin terlihat kecil. Tetapi bayangkan jika satu kampung melakukannya. Kemudian satu desa. Satu kecamatan. Hingga akhirnya menjadi kebiasaan seluruh masyarakat.

Perubahan besar memang selalu terlihat kecil ketika pertama kali dimulai.

Kita tidak harus menunggu menjadi aktivis lingkungan untuk peduli kepada bumi. Kita tidak harus melakukan sesuatu yang luar biasa. Mulailah dari sesuatu yang sangat sederhana: kurangi sampah yang kita hasilkan, gunakan kembali apa yang masih bisa digunakan, pilah sampah dari rumah, jangan membuang sampah ke sungai dan jangan meninggalkan sampah di tempat yang bukan semestinya.

Karena persoalan sampah sebenarnya bukan hanya persoalan petugas kebersihan, bukan hanya persoalan pemerintah, dan bukan hanya tentang tersedia atau tidaknya tempat pembuangan.

Ini adalah persoalan perilaku kita bersama.

Petugas dapat membersihkan sampah hari ini. Tetapi jika kebiasaan kita tidak berubah, besok tempat yang sama akan kembali kotor.

Kita dapat membangun banyak tempat pengolahan sampah. Kita dapat menambah kendaraan pengangkut. Kita dapat menambah petugas. Tetapi tidak akan pernah ada cukup kendaraan, cukup petugas, ataupun cukup tempat pembuangan apabila sampah terus kita hasilkan tanpa pernah berpikir untuk menguranginya.

Karena itu, mungkin sudah waktunya kita mengubah pertanyaan.

Bukan lagi hanya, “Mengapa lingkungan kita kotor?”

Tetapi:

“Apakah saya ikut membuatnya kotor?”

Bukan hanya, “Siapa yang harus membersihkannya?”

Tetapi:

“Apa yang bisa saya lakukan agar sampah saya tidak menjadi beban bagi orang lain dan bagi bumi?”

Kita adalah generasi yang menikmati bumi hari ini, tetapi kita bukan pemilik terakhirnya. Akan ada anak-anak kita, cucu-cucu kita, dan generasi setelah mereka yang juga membutuhkan air yang bersih, tanah yang sehat, udara yang baik dan lingkungan yang layak untuk hidup.

Jangan sampai suatu hari mereka menerima bumi yang penuh persoalan, lalu bertanya kepada kita:

“Ketika kalian tahu bumi sedang tidak baik-baik saja, apa yang kalian lakukan?”

Dan kita tidak mempunyai jawaban.

Mari mulai dari rumah kita sendiri. Dari dapur kita sendiri. Dari sampah kita sendiri.

Tidak perlu menunggu orang lain.

Sebab kepedulian kepada lingkungan bukan diukur dari seberapa banyak kita berbicara tentang bumi, tetapi dari seberapa besar tanggung jawab yang kita ambil terhadap jejak yang kita tinggalkan di atasnya.

Jadi, hari ini mari bertanya sekali lagi kepada diri kita sendiri:

Seberapa pedulinya kita?

Jika kita benar-benar peduli, biarkan bumi merasakannya melalui tindakan kita.

Karena sampah kita adalah tanggung jawab kita. Dan bumi yang kita jaga hari ini adalah kehidupan yang kita titipkan untuk generasi setelah kita.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top